
Dibenak saya sekarang ini, saya sesungguhnya tidak mengerti dengan sepenuhnya apa itu yang dinamakan Politik. Meskipun saya kuliah dijurusan Ilmu Pemerintahan yang juga mempelajari politik. Pertanyaan saya sekaligus tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk memahami dari dasar mengenai dunia politik yang kadang kala, atau sebagian orang menyakini bahwa politik itu diluar analisis logika atau nalar. Saya mencoba untuk mengerti disini juga sekaligus mempertanyakan karena ada sebuah gejolak dalam diri saya yang mempertanyakan hubungan politik dengan perkembangan kearah yang lebih baik dari kehidupan manusia itu sendiri.
Kita tahu politik merupakan sebuah proses yang begitu rumit namun merupakan sebuah proses mulia dengan tujuan idealist yang mulia juga: mengatur kehidupan seluruh masyarakat ke arah yang lebih baik—lebih makmur, lebih sejahtera, lebih sehat, lebih membahagiakan, dan lebih lebih yang lain. Namun ada sejenis paradox disini yang membuat saya takjub sekaligus keheranan. Sebuah upaya yang sedemikian mulia tersebut, ternyata di lahan sesungguhnya merupakan sebuah adu kekuatan atau adu muslihat untuk mencapai sebuah entitas atau apapun itu yang dinamakan “kekuasaan”.
Saya sendiri menyaksikan bahwa dalam berpolitik memang tidak ada yang namanya janji atau keputusan atau sumpah yang tetap atau bisa dipertahankan secara konsisten. Kadangkala sebagian orang mengatakan dengan sebuah slogan bahwa dalam berpolitik itu tidak ada kawan yang abadi yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Namun saya sendiri sangat tidak sependapat dengan slogan seperti ini. Ada dua alasan utama yang menyebabkan saya tidak menyetujui slogan seperti ini dalam dunia perpolitikan.
Pertama mengatakan slogan seperti itu hanya mendefinisikan bahwa politik hanya sebuah tindakan yang gegabah yang hanya berpikir tentang kekuasaan dan kepentingan pribadi saja. Politik mengalami proses yang sedemikian komplek dan rumit yang tidak mungkin bisa didefiniskan hanya dengan sebuah kalimat pendek yang berupa slogan. Hal ini akan menjadikan politik sebuah olok olokan atau ejekan yang sangat merugikan bagi proses politik itu sendiri, padahal sesungguhnya proses politik sangatlah komplek. Keberatan kedua berkaitan dengan proposisi dari slogan itu sendiri. Tidak ada kawan yang abadi yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Kepentingan dalam dunia politik sesungguhnya tidak pernah abadi. Kepentingan itu berkembang dan berubah juga dalam dunia politik seiring dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan kondisi yang ada dalam proses politik itu sendiri.
Sering saya mendengar bahwa berpolitik itu tidak bisa dikasih penilaian baik atau buruk (dalam istilah mereka halal dan haram) karena menurut mereka berpolitik itu merupakan percampuran dari keduanya. Sebagian orang juga bahkan menganggap proses politik itu semuanya buruk atau haram. Politik itu tidak punya moral. Dan sebagainya
Siapapun orangnya yang mengatakan hal demikian saya sangat tidak menyetujuinya. Proses politik sebagaimana proses proses yang dijalani manusia (ekonomi, sosial, keagamaan) merupakan sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan pada keberadaan dan kondisi dari lingkungan dimana proses politik itu berjalan dan berkembang. Politik selalu saja didasari atau istilahnya dibatasi oleh kehendak kehendak atau nilai nilai moral dimana nilai itu dipercaya dan dipertahankan kelangsungannya oleh masyarakat itu sendiri. Politik itu juga pada finalnya atau pada tujuan idealnya merupakan sesuatu yang menjadi kehendak dari sebagian besar masyarakat. Mewujudkan masyarakan yang makmur, adil dan sejahtera, merupakan impian dari hampir semua proses politik yang ada dalam dunia manusia.
Berpolitik tidak mungkin lepas dari psikologi manusia, komunikasi massa, ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagai bagian dari proses manusia berpolitik adalah hal yang sangat manusiawi. Walaupun sering kali, sebuah “kemenangan” politik selalu ditujukan pada “kemenangan menduduki kursi kekuasaan” namun hasil akhri dari proses politik itu bukan ditentukan oleh hal tersebut.
Berpolitik juga merupakan sebuah upaya untuk mewujudkan kehendak atau ambisi atau kepentingan dari manusia itu sendiri. Dan kadang kala karena “kekuasaan” itu sering menjadi tujuan dari “keberhasilan politik” maka adalah sangat logis jika “kekuasaan” itu tidak boleh sembarangan digunakan, atau mengandung suatu potensi untuk dengan mudah bisa “disalahgunakan”. Sejauh yang saya pahami, politik yang menjurus pada “kekuasaan tunggal” atau “kekuasaan terbatas” bukanlah sebuah proses yang dalam jangka panjang merupakan hal yang pantas dipertahankan. Hal ini mengingat sekali potensi kekuasaan tunggal ini disalahgunakan maka keberlanjutan kehidupan masyarakat menjadi taruhannya. Contoh: sistem diktaktor hanya akan menyengsarakan rakyat.
Saya sampai saat ini masih mengganggap bahwa demokrasi merupakan sebuah upaya (dalam wilayah negara, atau kekuasaan yang tersegmentasi) cara yang mampu mengurangi potensi-potensi “penyalahgunaan kekuasaan”. Walaupun sepertinya demokrasi bukan merupakan cara yang stabil dan cepat untuk mencapai “kesejahteraan” namun satu kelebihan dari demokrasi adalah ia sangat terbuka pada perbaikan-perbaikan seiring dengan perkembangan zaman. Demokrasi adalah sebuah upaya untuk menuju kesejahteraan dan kemakmuran masyrakat dalam segala bidang.
0 komentar:
Posting Komentar